SETITIK TAULADAN
Jampirejo adalah nama satu kelurahan di kota Temanggung.penduduknya bercampur baur antara komunitas muslim dan non muslim.Kehidupan terjalin dalam toleransi kuat antar anggota masyarakatnya.Sejarah berawal ketika pecah G 30 S PKI yang semula kehidupan mayarakat kacau dan terjadi banyak perselisihan, munculah sosok lurah baru sebagai karteker dari lurah yang dicopot karena keterlibatannya dengan PKI.Pada saat itu lurah baru yang juga seorang kyai pengasuh pondok pesantren itu tidak serta merta membabat habis kelompok rivalnya sebagaimana yang banyak terjadi di wilayah lain ,justru beliau banyak menjamin warganya yang menjadi anggota PKI (bukan tokohnya) untuk tidak diciduk,karena ternyata banyak dari mereka hanya ikut-ikutan dan tidak tahu-menahu dengan organisasi yang diikutinya.Pada akhirnya banyak dari mereka yang kembali kedalam pelukan Islam atau setidaknya anak turunnya menjadi muslim.Bahkan carik (sekretaris kelurahan) yang waktu itu dipegang kerabat dari lurah pertama yang di copot dan kebetulan beragama nasrani tetap dijadikan sekretarisnya ,tidak hanya itu hasil panen tanah bengkok masih diberikan kepada keluarga lurah yang dicopot dan telah diciduk tadi.Alhasil berkat tauladan sang kyai yang sekaligus lurah itu membuat warga non muslim menjadi sungkan dan bahkan ada yang akhirnya dari mereka mau menghibahkan tanahnya untuk di jadikan pekuburan umum .Sampai sekarang toleransi dan kerukunan warga kelurahan tersebut masih kuat.Hal ini dapat dilihat ketika ada kematian atau acara tradisi ngesur tanah (membuka tanah) sehari wafatnya seorang muslim ,hadir pada acara itu semua tetangga baik yang muslim atau non muslim.Pernah ada keponakan dari keluarga seorang nasrani masuk islam yang melangsungkan pernikahannya di rumah pamannya yang nasrani ,wal hasil akad nikah yang di saksikan pejabat KUA berlangsung di rumah yang banyak terpampang simbol-simbol nasrani.Resepsi secara islami pun berlangsung di tempat itu.Begitu pula ketika ada warga yang mau menunaikan ibadah haji,tetangga non muslim pun ikut bersama-sama yang muslim menengok haji.Banyak keluarga di kelurahan itu yang satu rumah beda agama.Kebanyakan karena disebabkan yang non muslim memeluk agama Islam (mu’alaf).Awalnya terjadi perselisihan tetapi pada akhirnya kembali lagi satu rumah dengan saling toleran dan menghormati.Ini adalah sekelumit buah dari suri tauladan pendiri Pondok Pesantren Al Huda – Al Hidayah Mu’allimin Jampirejo Temanggung KH.Abdul Hadi Sofwan .Beliau pernah berguru kepada KH Dalhar Watucongol-Muntilan, KH Ihsan Jampes –Kediri, dan KH Baidlowi Lasem.Menjabat sebagai Katib Syuriyah Partai NU cabang Temanggung tahun 1955 - 1964.Ketua GP Anshor Cabang Temanggung tahun 1956 - 1959. Ketua Partai NU tahun 1967 - 1973.Ketua Tanfiziyah Jam’iyah Nahdlatul Ulama cabang Temanggung tahun 1975 - 1987 .Ketua Tanfiziyah PWNU Jawa Tengah tahun 1987 s/d wafat.Wakil Ketua DPRD II Temanggung periode 1971.Periode1977-1982.Periode 1982-1987. Pendiri sekaligus dekan Fakultas Hukum Islam UNNU Temanggung (sekarang STAINU) sejak tahun 1969 hingga beliau wafat tanggal 23 Sya’ban 1408 H/1987 M . Allahu Yarham.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar