مرحبا أهلا وسهلا بحضوركم

Jumat, 27 Januari 2012

PROGRAM


                                    PROGRAM
Pendidikan dan Latihan (Diklat)
Ahlus Sunnah Wa Al-Jama’ah (Aswaja)

   “Aswaja Dari Pembiasaan ke Pemahaman”                           


Pendahuluan

Telah diketahui bersama ,dampak dari kemunculan berbagai paham yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah Wa-Al Jama’ah ini,bagi warga NU banyak mengalami kebingungan,kebimbangan dan pada akhirnya sebagaian diantara mereka hanyut,bahkan larut dalam ideologi keagamaan mereka. Hal ini  disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap islam khususnya ajaran Ahlussunah wal Jama’ah.Sehubungan dengan itu  maka Pimpinan Cabang  Nahdlatul Ulama bersama lembaga-lembaga di bawahnya berupaya untuk menyegarkan kembali pemahaman ajaran Ahlussunah wal Jama’ah dalam konteks Aswaja sebagai haluan perjuangan  Jam’iyah Nahdlatul Ulama’. Untuk itu perlu adanya pelatihan ,dialog dan pembahasan secara koperhensif yang melibatkan banyak pihak diantaranya adalah Ulama’,Cedikiawan dan masyarakat pesantren melalui kegiatan pelatihan.

Nama Dan Tema  Acara

Kegiatan ini bernama Diklat Wawasan Ahlus Sunah Wa Al-Jamaah. Dan diadakan satu hari dengan tema Aswaja Dari Pembiasaan ke Pemahaman ::

Tujuan

1.Menumbuhkan generasi NU yang konsisten dengan arah haluan   perjuangannya. 

2.Membentuk  intelektual muslim NU 

3.Mengembangkan strategi perjuangan NU 

Peserta

Adapun jumlah peserta diklat ini diperkirakan  200 orang dengan sasaran peserta adalah :

1.Badan-badan otonom  NU 30%.
2.Lembaga-lembaga  NU 20%.
3.MWC NU 50 %          

Waktu Dan Tempat Pelaksanaan

Hari/Tanggal               :     Sabtu Pahing/18 Februari  2012
Waktu                          :     08.00 s/d 13.00 Wib
Tempat                        :   Aula STAINU Temanggung (Gedung baru)

Penyelenggara

Acara ini diselenggarakan oleh PC NU Kab. Temanggung bekerja sama dengan lembaga-lembaga dibawahnya (MWC,LBMNU,Lajnah Talif wa Al- Nasyr,LAKPESDAM)




          Lampiran-lampiran 


Lampiran 1


SUSUNAN PANITIA

Penasihat               :    KH.Tajuddin Lc.
                                    PC NU Kab.Temanggung

Panitia             

Ketua                      :   K.M.Furqon
                                 (Katib Syuriah NU)
Wk.Ketua                    Mahsun, M.S.i

Wk.Ketua                : Miftahul Hadi

Sekretaris               :    H.Muhammad Syakur
                                    (Sekretaris LBMNU)
Wk.Sekretaris          :Syukron ,S.Pd.I
                
Bendahara              :    Nurdin Wahid
Wk. Bendahara       :    Drs. Khoiron



Seksi-Seksi :

Seksi Acara                :  1. Mahzum
                                      2. Jafar Shodiq
                                      3.K. Rofiq Zakariya
                                            
Humas                        :  1. Slamet Jafar
                                      2. H. Matori
                                      3. Faqih Dewantoro
                                      4. Hanif Masykuri

Seksi Keuangan           :  1. H. Jariyono
                                       2. Dedi Hariyadi, S.E.
                                       3. Agus Masud

Seksi Publikasi & Dok. : 1. Adib Rohani
                                       2. BEM STAINU

Seksi Perlengkapan     :  1. Al Amin
                                       2. Fathoni, S.Ag.
                                       3. PMII

Seksi Konsumsi            :  1. Nur Ahsan
                                        2. Abdul Rozak
                                        3. IPNU/IPPNU                                       

Seksi Keamanan           :   Banser       
        



Panitia Diklat ASWAJA
PC NU Temanggung



              K.M.FURQON
            Ketua

H.M.Syakur AH
  Sekretaris


         PC NU              Kab.Temanggung




     KH. Tajuddin Lc.

Mengetahui,





      Syuriah NU
 Kab. Temanggung



KH.Ya’kub Mubarok



   Lampiran 2                                                                                     
Susunan Acara
Diklat
AHLUS SUNNAH WA-AL JAMA’AH (ASWAJA)


1.                 Pembukaan

2.                 Sambutan-Sambutan

  a. Panitia Diklat
  b. Bupati  Temanggung
                 c. PC NU  Temanggung

3.   Diklat :

a.     Narasumber :  - KH. Muhyidin Abdushomad
                                    - Ustad Muhammad Idrus Romli

     b. Tema             : Aswaja dari Pembiasaan ke Pemahaman
 
    Sub judul : - Hujjah Akidah dan Amaliyah NU
Oleh : KH. Muhyiddin Abdusshomad
            (Rois Syuriyah PCNU Jember)
                                 - Aswaja dan Tantangan Ideologi Trans Nasional
          Oleh : Ustad Muhammad Idrus Ramli
                     (Tim ASWAJA Center PWNU JATIM)

     c.  Dialog Interaktif
   
     d.  Pembahasan

     e.  Ulasan/Kesimpulan.                                                                        
       
4. P e n u t u p

Kamis, 26 Januari 2012

HIKAYAT

Belas Kasih dan Pertolongan  Allah 


Dikisahkan dari Dzi Al Nuun Al Mishri rahimahullah :Suatu ketika aku hendak mencuci baju di sungai Nil .Tiba-tiba melintas seekor kalajengking yang sangat besar.Dengan terkejut aku minta perlindungan  kepada Allah dari bahaya sengatannya.Sampai di pinggir sungai  telah menunggu seekor katak yang besar  muncul dari dasar sungai,kemudian kalajengking tadi menyeberangi sungai dengan naik diatas punggungnya.Aku tidak berhenti mengikuti kedua hewan tersebut.Pada akhirnya sampailah  keduanya di seberang sungai.Kalajengkeng terus berjalan mendekati sebuah pohon yang besar dan rimbun.Di bawahnya tampak ada seorang pemuda yang tergeletak dalam keadaan mabuk.Melihat pemuda itu aku hanya mengelus dada dan berdoa   laa haulaa wa la quwwata illa billah.Kalajengking terus mendekati pemuda tadi.Aku mengira kalajengking hendak menyengatnya .Dalam hati aku  berpikir akan membunuh kalajengking itu jika sampai  membahayakan si pemabuk tadi.Tetapi tiba-tiba datanglah seekor ular besar menuju ke arah pemuda hendak memakannya.Seketika itu kalajengking menghadangnya dan terjadilah pertarungan sengit antara keduanya .Sampai akhirnya sengatan kalajengking mampu menembus kepala si ular dan mengakhiri hidupnya.Setelah mampu menaklukkan ular kalajengking tidak lantas menuju si pemuda tadi,tetapi berbalik kembali ke pinggir sungai.Dan di tempat itu katak yang tadi mengantarnya sudah menunggunya dan  kembali mengantar menyeberangi sungai menuju tempat semula ia datang.Setelah menyaksikan kedua hewan tadi pergi,aku kembali menuju tempat dimana pemabuk berada.Disampingnya aku lantunkan bait syair :

ياراقدا والجليل يحفظه    *   من كل سوء يكون فى الظلم

كيف تنام العيون عن ملك *   تأتيك منه فوائد النعم

Wahai tukang tidur ,bagaimana engkau ini  ? engkau selalu saja dalam gelapnya kesesatan. Sedang Allah Yang Maha Agung senantiasa  menjagamu dari setiap marabahaya.

Bagaimana  mata masih bisa  terpejam tidur, lupa kepada Allah ,sedang nikmat-nikmat-Nya tak pernah henti datang kepadamu.

Mendengar syair-syair yang aku bacakan ,pemabuk tersebut tiba-tiba terbangun .Kemudian aku ceritakan peristiwa yang telah terjadi.Mendengar kisahku si pemuda akhirnya sadar dan meninggalkan perilaku buruknya .Ia melepas segala kemewahan duniawi dan  mengganti dengan meniti jalan sufi sampai akhir hayatnya. Rahmatullahi alaih


Al Nawadir

Rabu, 25 Januari 2012

BAHTSUL MASAIL

ASILAH BAHTSUL MASAIL
LEMBAGA BAHTSUL MASAIL NAHDLATUL ULAMA (LBMNU)
PENGURUS CABANG  NU  TEMANGGUNG


                  DISKRIPSI MASALAH.

I.                    Keberagaman  kehidupan beragama di Indonesia yang diibaratkan sebagai negeri pelangi  sudah sejak lama berjalan damai.Tetapi seiring berjalannya waktu mulailah akhir-akhir ini  banyak terjadi  peristiwa berbau SARA. Adanya reaksi dari massa tentunya sebagai akibat dari adanya aksi yang kali pertama menyulut gejolak tadi,  misal : organisasi baru yg muncul mengatas namakan Islam seperti Ahmadiyah atau perbuatan oknum pengikut agama  tertentu yang berakibat meresahkan pihak pengikut Agama lain.Akan tetapi disisi yang lain ada juga usaha –usaha untuk merekatkan kembali persatuan dan kesatuan di negeri ini dari sebuah organisasi Islam  dengan mengadakan baksos (bakti sosial) berupa ikut mengamankan penyelenggaraan hari raya agama lain dan membersihkan  (dandan-dandan) tempat peribadatannya.

            Pertanyaan :

1. Apa hukum keberadaan pihak yang menjadi pemicu reaksi tadi?  
2.Apa tindakan yang harus dilakukan pemerintah sebagai waliyyul amri dhoruri bisyaukah  di negara ini  terhadap pihak yang punya potensi memicu gejolak di masyarakat?
3.Apa hukum melakukan kegiatan bakti sosial seperti di atas ?
4.Seberapakah batas toleransi beragama dalam Islam ?

(Pertanyaan dari MWC.Temanggung)

II.                 Bukan rahasia lagi ,bahwa kebanyakan dipentas pilkades (pemilihan kepala desa ) terjadi moneypolitic. Bakal calon kepala desa memberi sejumlah uang atau barang kepada tim sukses dan para pendukungnya untuk membantu mensukseskan kemenangannya.

Pertanyaan :

1.Bagaimana hukum menerima pemberian tersebut.
(pertanyaan dari MWC Selopampang)

III.               Seorang remaja  suatu ketika  asyik merokok di ruang dalam masjid.namun keasyikan itu hilang ketika Ustaz Aziz  masuk kemudian menegur dan mengusir mereka,karena menurut ustadz Aziz hal itu tidak sopan .Namun situasi menjadi lain ketika malam harinya yang bertepatan dengan haul desa yang diadakan di serambi Masjid .Tampak ustaz Aziz diserambi Masjid bersama warga yang sudah datang menunggu warga lainnya sambil merokok.
     
           Pertanyaan :

            1.Lepas dari polemik hukum rokok,bagaimana hukum merokok      dilingkungan Masjid (ruang dalam,serambi,tempat wudlu dll)
           
            (Pertanyaan dari : MWC Kaloran )


Jawaban  Bahtsul Masail
Tingkat Lembaga Bahtsul Masail (LBM)
PC.NU. Kab.Temanggung


Jawaban  :

I.                    1. Keberadaan pihak yang memicu gejolak dan persengketaan dimasyarakat adalah haram disebabkan adanya unsur memprovokasi
Ibarat kitab Is’adur Rafiq Juz 2 hal : 93
ومنها كل قول يحث احدا من الخلق على نحو فعل او قول شيئ او استماع الى شيئ محرم فى الشرع ولو غير مجمع على حرمته
                    
 2. Tindakan yang harus dilakukan pemerintah selaku Waliyyul Amri adalah menghilangkan dhoror / kerusakan di masyarakat. Dan  terhadap pelakunya adalah menghukum  ta’zir dan membubarkan organisasinya.

Ibarat kitab Al Fiqhu ala Mazahibi al Arba’ah ,juz 5 hal:407 cetakan Darul Fikri.
ويجب على كل رئيس قادر سواء كان حاكما او غيره ان يرفع الضرر عن مرءوسيه فلا يؤذيهم هو ولا يسمح لاحد ان يؤذيهم
ومما لا يشك فيه ان ترك الناس بدون قانون يرفع عنهم الاذى و الضرر يخالف هذا الحديث فكل حكم صالح فيه منفعة ورفع ضرر يقره الشرع ويرتضيه

                 Kitab  Ghayah Talkhisul Murad hal:263

يجب على الحاكم الوقوف على احكام الشرعية التى اقيم لها ولايتعداه الى احكام السياسة بل يجب عليه قهر من تعدى  ذلك وزجره وتعزيره وتعريفه ان الحق كذا

3. Hukum melakukan kegiatan  pengamanan hari raya agama lain dan membersihkan atau dandan-dandan tempat peribadatannya adalah  haram, karena termasuk mudahanatul kuffar.

Ibarat kitab Tafsir Munir juz 1, hal 94
لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أي لا يوال المؤمنون الكافرين لا استقلالا ولا اشتراكا مع المؤمنين وإنما الجائز لهم قصر الموالاة والمحبة على المؤمنين بأن يوالي بعضهم بعضا فقط. واعلم أن كون المؤمن مواليا للكافر يحتمل ثلاثة أوجه :
أحدهما : أن يكون راضيا بكفره ويتولاه لأجله. وهذا ممنوع لأن الرضا بالكفر كفر.
وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر. وذلك غير ممنوع.
وثالثها : الركون إلى الكفار والمعونة والنصرة إما بسبب القرابة أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه ، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه وذلك يخرجه عن الإسلام فهذا هو الذي هدد اللّه فيه بقوله : وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ أي الموالاة مع الكافرين بالاستقلال أو بالاشتراك مع المؤمنين فَلَيْسَ أي الموالي مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ أي ليس من ولاية اللّه في شيء يطلق عليه اسم الولاية إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً أي لا تتخذوا الكافرين أولياء ظاهرا ، أو باطنا في حال من الأحوال إلا حال اتقائكم
من جهتهم اتقاء. والمعنى أن اللّه نهى المؤمنين عن مداهنة الكفار إلا أن يكون الكفار غالبين ، أو يكون المؤمن في قوم كفار فيداهنهم بلسانه مطمئنا قلبه بالإيمان دفعا عن نفسه من غير أن يستحل دما حراما أو مالا حراما ، أو غير ذلك من المحرمات ومن غير أن يظهر الكفار على عورة المسلمين. والتقية لا تكون إلا مع خوف القتل مع صحة النية.



4.Batasan toleransi beragama yang diperbolahkan : hubungan lahiriyah yang baik  dalam pergaulan sosial dengan orang kafir yang  tidak sampai pada taraf mudahanah (lunak, bermurah-murah hati dan hilangnya prinsip)

Ibarat kitab:TafsirMunirJuz1,hal .  94 
وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر. وذلك غير ممنوع.

II. Hukum menerima pemberian tersebut adalah :
Haram (bagi si penerima)
Ibarat kitab Fatawi Al Subuki , juz 1 ,hal. 207 –cetakan Darul Ma’arif-

وملخص كلام العلماء فيما يعطي الحكام الأئمة والأمراء والقضاة والولاة وسائر من ولي أمرا من أمور المسلمين أنه إما رشوة وإما هدية أما الرشوة فحرام بالإجماع على من يأخذها وعلى من يعطيها وسواء كان الأخذ لنفسه أو وكيلا وكذا المعطي سواء أكان عن نفسه أو وكيلا ويجب ردها على صاحبها ولا تجعل في بيت المال إلا إذا جهل مالكها فتكون كالمال الضائع وفي احتمال لبعض متأخري الفقهاء أنها تجعل في بيت المال والمراد بالرشوة التي ذكرناها ما يعطى لدفع حق أو لتحصيل باطل وإن أعطيت للتوصل إلى الحكم بحق فالتحريم على من يأخذها كذلك وأما من لم يعطها فإن لم يقدر على الوصول إلى حقه إلا بذلك جاز وإن قدر إلى الوصول إليه بدونه لم يجز
وهكذا حكم ما يعطى على الولايات والمناصب يحرم على الآخذ مطلقا


III. Hukum merokok di lingkungan Masjid  :
      Haram ,karena merusak kehormatan masjid sebagai tempat yang dimuliakan.
    
 Ibarat :
 Kitab Hasyiyah al Bujairami,juz 1,hal.301 :

     قال على [ مر ] ومن الريح الكريه ريح الدخان المشهور الان

Kitab Qurratul ‘Ain Bifatawi Ismail Al Zein, hal. 225 :      

أما اذا كان فى المسجد كما ذكر فى السؤال او فى غيره من مجالس العلم فهو حرام لما فيه من انتهاك حرمة المكان لان الله تعالى يقول : فى بيوت أذن الله ان ترفع ويذكر فيها اسمه  اي اوجب الله وامر ان تعظم وتحترم  وشرب الدخان فيها ينافى الاحترام والتعظيم

Kitab Fathul Bari ,juz 2 ,hal.274 :


[ فائدة ] حكم رحبة المسجد وما قرب منها حكمه ولذلك كان صلي الله عليه وسلم اذ ا وجد ريحها فى المسجد امر باخراج من وجدت منه الى البقيع كما ثبت فى المسلم عن عمر رضي الله عنه
       
 
والله اعلم

Kamis, 12 Januari 2012

UBUDIYAH

Pengertian Mursyid




Mursyid adalah sebutan untuk seorang guru pembimbing dalam dunia thoriqoh, yang telah memperoleh izin dan ijazah dari guru mursyid diatasnya yang terus bersambung sampai kepada guru mursyid Shohibuth Thoriqoh yang musalsal dari Rasulullah SAW untuk mentalqin dzikir/ wirid thoriqoh kepada orang-orang yang datang meminta bimbingannya (murid). Dalam thoriqoh Tijaniyyah sebutan untuk mursyid adalah “muqoddam”.
Mursyid mempunyai kedudukan yang penting dalam ilmu thoriqoh. Karena ia tidak saja merupakan seorang pembimbing yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan lahiriyyah sehari-hari agar tidak menyimpang dari ajaran islam dan terjerumus dalam kemaksiatan, tetapi ia juga merupakan pemimpin kerohanian bagi para muridnya agar bisa wushul (terhubung) dengan Allah SWT. Karena ia merupakan washilah (perantara) antara si murid dengan Allah SWT. Demikian keyakinan yang terdapat dikalangan ahli thoriqoh.
Oleh karena itu, jabatan ini tidak boleh di pangku oleh sembarang orang, sekalipun pengetahuannya tentang ilmu thoriqoh cukup lengkap.Tetapi yang terpenting ia harus memiliki kebersihan rohani dan kehidupan batin yang tulus dan suci.
Bermacam-macam sebutan yang mulia diberikan kepada seorang guru musyid ini; seperti Nasik (orang yang sudah mengerjakan mayoritas perintah agama), Abid (orang yang ahli dan ikhlas mengerjakan segala ibadahnya), Imam (orang yang ahli memimpin tidak saja dalam segala bentuk ibadah syariat, tetapi juga masalah aqidah/keyakinan), Syaikh (orang yang menjadi sesepuh atau yang dituakan dari suatu perkumpulan), Saadah (penghulu atau orang yang dihormati dan diberi kekuasaan penuh) dan lain sebagainya.
Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdy, seorang penganut thariqah Naqsyabandiyah yang bermazhab syafi’i dalam kitabnya Tanwirul Qulub Fi Muamalati Allamil Ghuyub menyatakan bahwa yang dinamakan Syaikh/Mursyid itu adalah orang yang sudah mencapai maqom Rijalul Kamal, seorang yang sudah sempurna suluk/lakunya dalam syari’at dan hakikat menurut Al Qur’an, sunnah dan ijma’. Hal yang demikian itu baru terjadi sesudah sempurna pengajarannya dari seorang mursyid yang mempunyai maqom (kedudukan) yang lebih tinggi darinya, yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang bersumber dari Allah SWT dengan melakukan ikatan-ikatan janji dan wasiat (bai’at) dan memperoleh izin maupun ijazah untuk menyampaikan ajaran suluk dzikir itu kepada orang lain.
Seorang mursyid yang diakui keabsahanya itu sebenarnya tidak boleh dari seorang yang jahil, yang hanya ingin menduduki jabatan itu karena didorong oleh nafsu belaka.
Mursyid yang arif yang memiliki sifat-sifat dan kesungguhan seperti yang tersebut di atas itulah yang diperbolehkan memimpin suatu thariqah.
Mursyid merupakan penghubung antara para muridnya dengan Allah SWT, juga merupakan pintu yang harus dilalui oleh setiap muridnya untuk menuju kepada Allah SWT. Seorang syaikh /mursyid yang tidak mempunyai mursyid yang benar di atasnya, menurut Al-Kurdy, maka mursyidnya adalah syetan. Seseorang tidak boleh melakukan irsyad (bimbingan) dzikir kepada orang lain kecuali setelah memperoleh pengajaran yang sempurna dan mendapat izin atau ijazah dari guru mursyid di atasnya yang berhak dan mempunyai silsilah yang benar sampai kepada Rasulullah SAW.
Al-Imam Ar-Roziy menyatakan bahwa seorang syaikh yang tidak berijazah dalam pengajarannya akan lebih merusakkan terhadap para muridnya daripada memperbaikinya, dan dosanya sama dengan dosa seorang perampok, karena dia menceraikan murid-murid yang benar dari pemimpin-pemimpinnya yang arif.

Senin, 02 Januari 2012

FRAGMEN

SETITIK TAULADAN

Jampirejo adalah nama satu kelurahan di kota Temanggung.penduduknya bercampur baur antara komunitas muslim dan non muslim.Kehidupan terjalin dalam toleransi kuat antar anggota masyarakatnya.Sejarah berawal ketika pecah G 30 S PKI yang semula kehidupan mayarakat kacau dan terjadi banyak perselisihan, munculah sosok  lurah baru sebagai karteker dari lurah yang dicopot karena keterlibatannya dengan PKI.Pada saat itu lurah baru yang juga seorang kyai pengasuh pondok pesantren itu  tidak serta merta membabat habis kelompok rivalnya sebagaimana yang banyak terjadi di wilayah lain ,justru beliau banyak menjamin warganya yang menjadi anggota PKI (bukan tokohnya) untuk tidak diciduk,karena ternyata banyak dari mereka hanya ikut-ikutan dan tidak tahu-menahu dengan organisasi yang diikutinya.Pada akhirnya banyak dari mereka yang kembali kedalam pelukan Islam atau setidaknya anak turunnya menjadi muslim.Bahkan carik (sekretaris kelurahan) yang waktu itu dipegang kerabat dari lurah pertama yang di copot dan kebetulan beragama nasrani tetap dijadikan sekretarisnya ,tidak hanya itu hasil panen tanah bengkok masih diberikan kepada keluarga lurah yang dicopot dan telah diciduk  tadi.Alhasil berkat tauladan sang kyai yang sekaligus lurah  itu membuat warga non muslim menjadi sungkan dan bahkan ada yang akhirnya dari mereka mau menghibahkan tanahnya untuk di jadikan pekuburan umum .Sampai sekarang toleransi dan kerukunan warga kelurahan tersebut masih kuat.Hal ini dapat dilihat ketika ada kematian atau acara tradisi ngesur tanah (membuka tanah) sehari wafatnya seorang muslim ,hadir pada acara itu semua tetangga baik yang muslim atau non muslim.Pernah ada keponakan dari keluarga seorang nasrani masuk islam yang melangsungkan pernikahannya di rumah pamannya yang nasrani ,wal hasil akad nikah yang di saksikan pejabat KUA berlangsung di rumah yang banyak terpampang simbol-simbol nasrani.Resepsi secara islami pun berlangsung di tempat itu.Begitu pula ketika ada warga yang mau menunaikan ibadah haji,tetangga non muslim pun ikut bersama-sama yang muslim menengok haji.Banyak keluarga di kelurahan itu yang satu rumah beda agama.Kebanyakan karena disebabkan yang non muslim memeluk agama Islam (mu’alaf).Awalnya terjadi perselisihan tetapi pada akhirnya kembali lagi satu rumah dengan saling toleran dan menghormati.Ini adalah sekelumit buah dari suri tauladan pendiri Pondok Pesantren Al Huda – Al Hidayah  Mu’allimin Jampirejo Temanggung KH.Abdul Hadi Sofwan .Beliau pernah berguru kepada KH Dalhar Watucongol-Muntilan, KH Ihsan Jampes –Kediri, dan KH Baidlowi Lasem.Menjabat sebagai Katib Syuriyah Partai NU cabang Temanggung tahun 1955 - 1964.Ketua GP Anshor Cabang Temanggung tahun 1956 - 1959. Ketua Partai NU tahun 1967 - 1973.Ketua Tanfiziyah Jam’iyah Nahdlatul Ulama cabang Temanggung  tahun 1975 - 1987 .Ketua Tanfiziyah PWNU Jawa Tengah tahun 1987 s/d wafat.Wakil Ketua DPRD II Temanggung periode 1971.Periode1977-1982.Periode 1982-1987. Pendiri sekaligus dekan Fakultas Hukum Islam UNNU Temanggung (sekarang STAINU) sejak tahun 1969 hingga  beliau wafat tanggal 23 Sya’ban 1408 H/1987 M . Allahu Yarham.